GANGGUAN PSIKOPATOLOGI
PADA LANSIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan semakin besar proporsi populasi
orang-orang lanjut usia (lansia) beserta heterogenitas, pengalaman hidup yang
kompleks, dan perubahan demografis dalam populasi, penting bagi professional
kesehatan mental untuk bersiap-siap mengakses dan menagngani klien-klien
lansia. Terlepas dari kecenderungan untuk memandang lansia sebagai populasi
yang homogen dilihat dari nilai-nilai, motif, status social psikologis serta
perilakunya, penelitian menunjukkan bahwa lansia adalah populasi yang sangat
beragam dan heterogen (Jackson, Chatter, dan Taylor, 1993; Williams,
Lavizzo-Mourey, dan Warren, 1994). Mereka memiliki karakteristik-karakteristik
yang sama dan yang berbeda dengan kelompok-kelompok usia lainnya.
Dalam mengonseptualisasikan
penuaan, pembedaan yang berfaedah adalah dengan membedakan antara the young-old
dan the oldest-old (Berger dan Thompson, 1998). Istilah oldest-old mengacu pada
orang-orang yang berumur 85 tahun keatas. Tetapi, sebagian peneliti khawatir
apabila pembedaan itu dapat menjadikan pensetereotipan terhadap kelompok the oldest-old
(Binstock, 1992). Ini poin yang penting karena umur kronologis bukan
satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana orang menyesuaikan diri terhadap
penuaannya. Keadaan pikiran, kebiasaan terkait kesehatan, dan pandangan social
dan psikologis secara umum tentang hidup juga menentukan penyesuaian terhadap
penuaan. Di Amerika jumlah penduduk berusia 65 tahun atau lebih deperkirakan
akan meningkat dari 35 juta pada tahun 2000 menjadi 78 juta pada tahun 2050,
peningkatan jumlah tertinggi dibandingkah kelompok usia lain. Di seluruh dunia
jumlah individu berusia di atas 65 tahun mencapai 750 juta pada tahun 2050.
Menurut Bernice Neugarten (1968)
James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa
puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah
permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa
kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini
tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang
homogen. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia
lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi
manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan
untuk tumbuh berkembang dan bertekad berbakti. Ada juga lanjut usia yang
memandang usia tua dengan sikap-sikap yang berkisar antara kepasrahan yang
pasif dan pemberontakan , penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi
terkunci dalam diri mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses
kemerosotan jasmani dan mental mereka sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian lansia (Lanjut Usia)
adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya
beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia
mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak.
Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini,
dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang
normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap
fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya
(Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usa)
menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak
berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan
menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU no.12 tahun
1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang
harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu
akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea,
2005).
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
pengertian lansia digolongkan menjadi 4, yaitu:
- Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
- Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
- Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
- Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok
penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada
lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara
perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
Gangguan pada masa lanjut usia
terbagi menjadi dua yaitu;
1.
Gangguan pada otak
a.
Demensia
Demensia dapat diartikan sebagai
gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari.
Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada
tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive)
ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C.,
Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar
penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit
atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Disebutkan dalam sebuah literatur
bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah
tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar
tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar
peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia
adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy
body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh
penyakit lain.
Lima puluh sampai enam puluh persen
penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana
sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di
transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer
mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan
proses berpikir.
Gejala
Demensia
Hal yang menarik dari gejala
penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku
sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam
tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita
demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka
sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif.
Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat
nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi
hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada
usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat
yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang
semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia
kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya
sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua
mereka.
b.
Delirium
Delirium adalah gangguan otak yang menunjuk kepada sindroma organik
karena gangguan fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan
yang menghambat metabolisme otak, gejala umumnya adalah penurunan kesadaran(Maramis).
Tanda dan gejala
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
* Konsentrasi dan memfokus
* Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
* Kesadaran naik-turun
* Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
* Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
* Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
* Perubahan kepribadian dan afek
* Pikiran menjadi kacau
* Bicara ngawur
* Disartria dan bicara cepat
* Neologisma
* Inkoheren
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
* Konsentrasi dan memfokus
* Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
* Kesadaran naik-turun
* Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
* Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
* Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
* Perubahan kepribadian dan afek
* Pikiran menjadi kacau
* Bicara ngawur
* Disartria dan bicara cepat
* Neologisma
* Inkoheren
Gejala termasuk:
* Perilaku yang inadekuat
* Rasa takut
* Curiga
* Mudah tersinggung
* Agitatif
* Hiperaktif
* Siaga tinggi (Hyperalert)
Atau sebaliknya bisa menjadi:
* Pendiam
* Menarik diri
* Mengantuk
* Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
* Pola tidur dan makan terganggu
* Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu
2.
Gangguan psikologis
a.
Depresi
Pada orang lanjut usia yang mengalami depresi, bukanlah pertama kali
mengalaminya. Namun depresi yang mereka alami merupakan kelanjutan suatu
kondisi yang terjadi dimasa usia terdahulu. Pada orang lansia yang baru
mengalami depresi pada usia lanjut, depresi tersebut dapat ditelusuri
kepenyebab biologis yang spesifik.
Penatalaksaan depresi pada lansia meliputi beberapa aspek, antara lain:
a). Farmakoterapi
Respon terhadap obat pad usia lanjut sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor antara lain farmakokinetik dan farmakodinamik. Faktor-faktor
farmakokinetik antara lain: absorbsi, distribusi, biotransformasi, dan ereksi
obat akan mempengaruhi jumlah obat yang dapat mencapai jaringan tempat kerja obat
untuk bereaksi dengan reseptornya. Faktor-faktor farmakodinamik antara lain:
sensitivitas reseptor, mekanisme homeostatik akan mempengaruhi antisitas efek
farmakologik dari obat tersebut.
Obat-obat yang digunakan pada penyembuhan depresi usia lanjut antara lain:
- Anti Depresan
Trisiklik
- Irreversible
Monoamin Oxsidase A-B Inhibitor (MAOIs)
- Selective
Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs)
- Selective
Serotonin Reuptake Enhacer (SSRIs)
- Penstabil Mood
(Mood Stabilizer)
- Electroconvulsive
Teraphy (ECT)
b). Psikoterapi
Menurut
Marasmis (2005), cara-cara psikoterapi dapat dibedakan menjadi dua kelompok
besar, yaitu psikoterapi suportif dan psiloterapi genetic dinamik.
1). Psikoterapi
suportif
Tujuan psikoterapi jenis ini adalah menguatkan daya
tahan mental yang ada, mengembangkan mekanisme yang baru dan lebih baik untuk
mempertahankan control diri, dan dapat mengembalikan keseimbangan adaptif
(dapat menyesuaikan diri). Cara-cara psikoterapi suportif antara lain:
ventilasi atau psikokatarsis, persuasi atau bujukan, sugesti penjaminan
kembali, bimbingan dan penyuluhan, terapi kerja, hipnoterapi dan narkoterapi
kelompok, terapi perilaku.
2).
Psikoterapi genetic-dinamik (psikoterapi wawasan).
Psikoterapi
genetic-dinamik dibagi menjadi psikoterapi reeduaktif dan psikoterapi
rekonstruktif. Psikoterapi reedukatif adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk
mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak dialam
sadar, dengan usaha berencana untuk penyesuaian diri kembali, memodifikasi
tujuan , dan membangkitkan serta mengungkapkan potensi reaktif yang ada. Cara
psikoterapi reedukatif antara lain: terapi hubungan antara manuasia, terapi
sikap, terapi wawancara, analisa dan sintesa yang distributive, konseling
terapetik, terapi kerja, reconditioning, terapi kelompok yang reedukatif, dan
terapi somatic. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain: Psikoanalisa
Freud, Psikoanalisis non-Frreu, psikoanalisis non-Freudian, dan psikoterapi
yang berorientasi pada psikoanalisanya (misalnya: asosiasi bebas, analisa
mimpi, hipnoanalisa, narkoterapi, terapi main, terapi seni, dan terapi kelompok
analitik.
c). Manipulasi
lingkungan
Lingkungan pergaulan pasien akan sangat membantu penatalaksanaan depresi
pada lansia. Dimana keluarga penderita harus bersifat sabar dan penuh
perhatian. Pengobatan sosiokultural dilakukan dengan mengurangi stresor yang
ada yaitu menciptakan lingkungan yang sehat serta memperbaiki sistem komunikasi
lingkungan. Selain itu keadaan fisik dan keberhasilan perlu mendapat perhatian
yang optimal dan seringkali diperlukan mmanipulasi lingkungan untuk meringankan
penderitaan pasien (Setabudi, 1984).
b.
Kecemasan
Informasi yang ada tentang
gangguan kecemasan pada lansia sangat terbatas, meskipun gangguan ini lebih
banyak terjadi dalam populasi ini dibanding depresi (Beck dan Stenley, 1997).
Kriteria diagnosis untuk gangguan kecemasan yang menjadi focus perhatian pada
lansia didefinisikan sebagai berikut (American Psychiatric Association, 1994):
1.
Gangguan panik dideskripsikan
sebagai episode-episode aprehensi intens, palpitasi, nyeri dada, dan napas
pendek yang mendadak, yang berulang kali muncul.
2.
Fobia ditandai oleh ketakutan dan
penghindaran yang melampaui besarnya bahaya riilnya.
3.
Generalized Anxiety Disorde (GAD)
(gangguan kecemasan menyeluruh) menyangkut kecemasan dan kekhawatiran yang
persisten dan tak terkontrol.
4.
Post-Traumatic Stress Disorder
(PTSD) (Gangguan Stes Paska-Trauma) mengacu pada pengalaman emosional yang
dirasakan kembali seperti saat mengalami kejadian traumatis intens, yang
disertai dengan penghindaran rangsangan fisiologis dari hal-hal yang berhubungan
dengan trauma itu. Angka preferensi gangguan kecemasan dikalangan lansia adalah
5,5% (Regier, dkk., 1988).
c.
Delusional (Paranoid)
Paranoid pada orang lanjut usia dapat merupakan kelanjutan dari gangguan
yang terjadi pada masa lampau atau dapat menyertai penyakit otak seperti
delirium dan demensia. Pemikiran paranoid telah dihubungkan dengan kerusakan
sensori, khususnya pendengaran. Orang lanjut usia yang mengalami ketulian dapat
meyakini bahwa orang lain membicarakannya dengan berbisik agar ia tidak
mendengar apa yang dikatakan mereka. Orang lanjut usia menjadi paranoid juga
memiliki penyesuaian sosial yang buruk.
Kepribadian paranoid
adalah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol, orang
seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dilihat sebagai seorang
agresor terhadapnya, dimana ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap
sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering mengancam orang
lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Mereka cenderung tidak
memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki
terhadap orang lain. Selain itu, mereka pada umumnya juga tidak kehilangan
hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain berada dalam kesadaran saat
mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara berlebihan.
d.
Skizofrenia
Gangguan
jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat
dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat
ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi
fisik, psikologis dan sosial-budaya. Skizofrenia pada lansia angka
prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep.Kes.1992).
Gangguan
skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran
sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau. Hal tersebut juga menyebabkan
gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas, bingung, mudah
marah, mudah salah faham dan sebagainya. Terjadi juga gangguan perilaku, yang
disertai halusinasi, waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita,
sehingga penderita menjadi tak tahu waktu, tempat maupun orang.
Ganguan
skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas
seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras, atau
mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia
merasa menjadi orang ketiga. Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan
tinggkat kesadaran pasien (penderita), melalui pemeriksaan psikiatrik maupun
pemeriksaan lain yang diperlukan. Karena banyaknya gangguan paranoid pada
lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut
termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile
psikosis.
Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
·
Skizofrenia paranoid (curiga,
bermusuhan, garang dsb)
·
Skizofrenia katatonik (seperti
patung, tidak mau makan, tidak mau minum, dsb)
·
Skizofrenia hebefrenik (seperti
anak kecil, merengek-rengek, minta-minta, dsb)
·
Skizofrenia simplek (seperti
gelandangan, jalan terus, kluyuran)
·
Skizofrenia Latent (autustik,
seperti gembel)
Pada umumya, gangguan
skizof renia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid, simplek dan
latent.
e.
Hipokondriasis
Gangguan Hipokondriasis adalah
suatu gangguan Somatoform dimana individu terpreokupasi ketakutan
mengalami suatu penyakit serius yang menetap terlepas dari kepastian medis yang
menyatakan sebaliknya (tidak terbukti secara medis ada suatu Apenyakit di dalam
tubuhnya). Gangguan ini umumnya muncul pada masa dewasa awal, dan cenderung
memiliki perjalanan yang kronis. Dalam suatu studi lebih dari 60 persen kasus
yang terdiagnosis masih mengalami gangguan tersebut ketika ditindaklanjuti 4
hingga 5 tahun kemudian (Barsky dkk., 1998). Para pasien dengan diagnosis ini
merupakan konsumen rutin layanan kesehatan; tidak mengherankan mereka
menganggap dokter atau tenaga medis lainnya tidak berkompeten dan tidak peduli
(Pershing, dkk., 2000). Teorinya adalah mereka bereaksi berlebihan terhadap
berbagai sensasi fisik biasa dan abnormalitas minor, seperti denyut jantung
yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang tidak sering, setitik rasa sakit,
sakit perut, sebagai bukti keyakinan mereka.
Hipokondriasis sering kali muncul
bersama dengan gangguan anxietas dan mood, yang mengarahkan beberapa peneliti
untuk berpikir bahwa hipokondriasis bukan merupakan gangguan tersendiri, namun
suatu symptom berbagai gangguan lain (Noyes, 1999). Hipokondriasis tidak
dibedakan secara tepat dengan gangguan somatisasi yang juga dicirikan oleh
riwayat panjang mengenai keluhan penyakit medis (Noyes, dkk., 1994).
Intervensi untuk gangguan Hipokondriasis yang secara umum telah terbukti secara
efektif adalah Terapi Kognitif-Behavioral (CBT) (a.l., Bach, 2000; Fernandez,
Rodriguez&Fernandez, 2001). Penelitian menunjukkan bahwa para pasien
Hipokondriasis menunjukkan penyimpangan kognitif dengan menganggap masalah
kesehatan yang muncul sebagai suatu ancaman (Smeets dkk., 2000). Terapi
kognitif-behavioral dapat ditujukan untuk merestrukturisasi pemikiran
pesimistik semacam itu. Selain itu, penanganan dapat mencakup beberapa strategi
seperti mengarahkan perhatian selektif pasien ke simptom-simptom fisik dan
tidak mendorong pasien mencari kepastian medis bahwa ia tidak sakit (a.l.,
Salkovskis&Warwick, 1986; Visser&Bouman, 1992; Warwick&Salkovskis,
2001).
f.
Gangguan Tidur
Gangguan tidur pada lansia adalah sebuah hal yang
sering di alami oleh kelompok usia lanjut (lansia) ini. Gangguan tidur pada
lansia ini di sebabkan oleh banyak faktor penyebab, baik itu faktor fisik,
psikologis maupun mental. Ganggun tidur pada lansia bisa berupa gangguan
kesulitan tidur ataupun gangguan mempertahankan waktu tidur nyenyak.
Gangguan tidur pada lansia dapat bersifat nonpatologik
karena faktor usia danada pula gangguan tidur spesifik yang sering ditemukan
pada lansia. Ada beberapa gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia.
Insomnia Primer
Ditandai dengan:
·
Keluhan sulit masuk tidur atau
mempertahankan tidur atau tetap tidak segar meskipun sudah tidur. Keadaan ini
berlangsung paling sedikit satu bulan
·
Menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinik atau impairmentsosial, okupasional, atau fungsi penting
lainnya.-Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama ada gangguan
mental lainnya.
·
Tidak disebabkan oleh pengaruh
fisiologik langsung kondisi medik umum atau zat.
Insomnia
kronik
·
Disebut juga insomnia
psikofisiologik persisten. Insomnia ini dapatdisebabkan oleh kecemasan; selain
itu, dapat pula terjadi akibat kebiasaan atau pembelajaran atau perilaku
maladaptif di tempat tidur. Misalnya, pemecahan masalahserius di tempat tidur,
kekhawatiran, atau pikiran negatif terhadap tidur ( sudah berpikir tidak akan
bisa tidur). Adanya kecemasan yang berlebihan karena tidak bisatidur
menyebabkan seseorang berusaha keras untuk tidur tetapi ia semakin tidak bisa
tidur.
Insomnia
idiopatik
·
Insomnia idiopatik adalah insomnia
yang sudah terjadi sejak kehidupan dini.Kadang-kadang insomnia ini sudah
terjadi sejak lahir dan dapat berlanjut selamahidup. Penyebabnya tidak jelas,
ada dugaan disebabkan oleh ketidakseimbanganneurokimia otak di formasio
retikularis batang otak atau disfungsi forebrain. Lansia yang tinggal sendiri
atau adanya rasa ketakutan yang dieksaserbasi pada malam haridapat menyebabkan
tidak bisa tidur. Insomnia kronik dapat menyebabkan penurunanmood (risiko
depresi dan anxietas), menurunkan motivasi, atensi, energi, dankonsentrasi,
serta menimbulkan rasa malas. Kualitas hidup berkurang danmenyebabkan lansia
tersebut lebih sering menggunakan fasilitas kesehatan. Seseorang dengan
insomnia primer sering mempunyai riwayat gangguan tidur sebelumnya. Sering
penderita insomnia mengobati sendiri dengan obat sedatif-hipnotik atau alkohol.
Anksiolitik sering digunakan untuk mengatasi ketegangan dan kecemasan.
Penanganan Gangguan Tidur Pada Lansia
Pencegahan
Primer
Sebelas
peraturan untuk mendapatkan higiene tidur yang baik telah berhasil
diidentifikasi untuk pencegahan primer gangguan tidur.
·
Tidur seperlunya, tetapi tidak
berlebihan, agar merasa segar dan sehat di hari berikutnya. Pembatasan waktu
tidur dapat memperkuat tidur, berlebihnya waktu yang dihabiskan di tempat tidur
tampaknya berkaitan dengan tidur yang terputus-putus dan dangkal.
·
Waktu bangun yang teratur di pagi
hari memperkuat siklus sirkadian dan menyebabkan awitan tidur yang teratur.
·
Jumlah latihan yang stabil setiap
harinya dapat memperdalam tidur, namun, latihan yang hanya dilakukan
kadang-kadang tidak dapat memperbaiki tidur pada malam berikutnya.
·
Bunyi bising yang bersifat
kadang-kadang (mis, bunyi pesawat melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun
orang tersebut tidak terbangun oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di
pagi hari. Kamar tidur kedap suara dapat membantu bagi orang-orang yanh harus
tidur di dekat kebisingan.
·
Meskipun ruangan yang terlalu hangat
dapat mengganggu tidur, namun tida ada bukti yang menunjukkn bahwa kamar yang
terlalu dingin dapat membantu tidur.
·
Rasa lapar menggau tidur, kudapan
ringan dapat membantu tidur.
·
Pil tidur yang hanya kadang-kadang
saja digunakan dapat bersifat menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis
tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.
·
Kafein di malam hari dapat menggu
tidur, meskipun pada prang-orang yang tidak berfikir demikian.
·
Alkohol membantu orang-orang yang
tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan
terputus-putus.
·
Orang-orang yang merasa marah dan
frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha terlalu keras untuk
tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
·
Penggunaan tembakau secara kronis
dapat mengganggu tidur.
Pencegahan sekunder
Seperti
biasa, memvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau pemberian
perawatan merupakan hal yang penting untuk memastikan ke akuratan dan
pengkajian jika pasien dianggap tidak kompeten untuk memberi laporan sendiri.
Catatan
harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus bagi lansia di
rumahnya sendiri. Informasi ini memberikan catatan yang akurat tentang masalah
tidur. Untuk mendapatkan gambaran sejati tentang gangguan tidur yang dialami
lansia di rumah atau di fasilitas kesehatan, catatan harian tersebut harus
dibuat selama 3 sampai 4 minggu. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor
berikut ini:
·
Seberapa sering bantuan diperlukan
untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat tidur, atau menggunakan kamar mandi.
·
Kapan orang tersebut turun dari
tempat tidur.
·
Berapa kali orang tersebut terbangun
atau memberi perawatan.
·
Terjadinya konfusi atau
disorientasi.
·
Penggunaan obat tidur.
·
Perkiraan orang tersebut bangun di
pagi hari.
Pencegahan
Tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti
apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi
melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut
dan memengaruhi jalan napas. Saat ini sudah banyak pusat-pusat gangguan tidur
yang tersedia di seluruh negara untuk membantu mengevaluasi gangguan tidur.
Tempat-tempat
tersebut, yang biasanya berkaitan dengan lembaga penelitian dan kedokteran klinis
atau universitas, dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih untuk
mendeteksi rekaman listrik di otak dan obstruksi pernapasan. Data-data tersebut
membantu menentukan pengobatan yang terbaik untuk mengatasi kesulitan dan
merehabilitasi lansia sehingga ia dapat menikmati tidur yang berkualitas baik
sampai akhir hidupnya.
Penanganan
Terapeutik Gangguan Tidur pada Lansia
Nicassio
menganjurkan aturan-aturan berikut untuk mempertahankan kenormalan pola tidur:
·
Pergi tidur hanya jika mengantuk.
·
Gunakan tempat tidur hanya untuk
tidur, jangan membaca, menonton televisi, atau makan di tempat tidur.
·
Jika tidak dapat tidur, bangun dan
pindah ke ruangan lain. Bangun sampai anda benar-benar mengantuk, kemudian baru
kembali ke tempat tidur. Jika tidur masih tidak biasa dilakukan dengan mudah,
bangun lagi dari tempat tidur. Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat
tidur dengan tidur cepat. Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang
malam.
·
Siapkan alarm dan bangun di waktu
yang sama setiap pagi tanpa mempedulikan berapa banyak anda tidur di malam
hari. Hal ini dapat membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
·
Kurangi tidur di siang hari.
g.
Bunuh Diri
Faktor yang menyebabkan orang
lanjut usia melakukan bunuh diri adalah: karena penyakit fisik yang serius,
rasa putus asa, isolasi sosial, kehilangan orang-orang yang dicintai, ekonomi
lemah, dan depresi. Angka bunuh diri pada orang lanjut usia terhitung tinggi,
tiga kali lebih besar dari orang muda (McIntosh,1995).
Orang lanjut usia yang
mencoba bunuh diri akan menggunakan lebih fatal dan lebih
berhasil.Conwell,2001). Interfensi untuk mencegah tindakan bunuh diri pada
lanjut usia adalah dengan melihat masalahnya dari sudut pandang yang akan
menggurangi keputus asaanya.
h.
Seksualitas Dan Penuaan
Laki-laki dan perempuan akan
kehilangan minat dan kapasitas untuk berhubungan seks ketika memasuki usia
lanjut. Orang lanjut usia tidak mampu menikmati hubungan lebih dari sekedar
pelukan sayang dan ciuman dipipi. Kapasitas mereka untuk menggalami
keterangsangan seksual dicampur adukkan dengan ketidak mampuan mereka untuk
hamil pascamenopause.
Namun ada sebagian besar
orang lanjut usia yang memiliki minat dan kapasitas seksual yang besar, dimana
aktifitas yang lebih disukai cenderung berupa belaian dan mastrubasi,
kadang-kadang melakukan kontak kelamin.
BAB III
PENANGANAN GANGGUAN PADA LANSIA
A. Intervensi psikologis
- Asesmen: Bersikap Sensitif terhadap Isu-isu Penuaan
Seperti halnya orang-orang dewasa yang lebih muda
teknik-teknik yang digunakan dalam asesmen psikologisnya termasuk wawancara
klinis, reviu data dan catatan riwayat hidup, evaluasi kognitif dan
neuropsikologis, asasmen perilaku, dan observasi situasional (Kaszniak, 1996).
Tetapi, untuk lansia, psikolog perlu untuk berbagai tes dan lebih sering
memasukkan tes kognitif dalam asesmen. American Psychiatric Association (1994)
menyediakan pedoman untuk evaluasi demensia dan kemunduran kognitif terkait
umur.
Untuk pasien-pasien yang memperlihatkan perilaku
yang bersifat merugikan (misalnya; berkeliaran, berteriak-teriak, menyerang)
asesmen perilaku dapat berguna dalam menetapkan tipe teknik yang berguna bagi
pasien dan/atau staf yang menangani pasien (misalnya dipanti jompo) (Burgio,
Flynn, dan Martin, 1987; Rader, 1994).
- Psikoterapi: Observasi Umum tentang Adaptasi dan Efektifitas
Kebanyakan penelitian tentang psikoterapi untuk
lansia menggunakan pendekatan-pendekatan kognitif-behavioral, dan ini telah
terbukti efektif untuk berbagai macam masalah (Scorgin dan Mc Elreath, 1994;
Zarith dan Knight, 1996).
Cognitive and Behavioral Therapies (CBT)/Terapi
kognitif dan behavioral, didasarkan pada pendekatan-pendekatan teoritis yang
menekankan pada belajar seumur hidup dan keyakinan yang optimistic bahwa orang
mampu menciptakan perubahan penting dalam pikiran, perasaan, dan tindakannya
(misalnya, Goldfried dan Davison, 1994).
B. Psikoterapi Untuk Lansia
Ketika menangani lansia, penting untuk tidak berasumsi bahwa adaptasi
tertentu pada terapi kognitif-behavioral selalu dibutuhkan. Setiap individu
dalam terapi akan berfungsi dengan cara yang unik. Asesmen terhadap
masing-masing klien seharusnya tidak hanya memasukkan informasi tentang
presenting complaint, tetapi juga berbagai kekuatan dan deficit, guna menetapkan
adaptasi mana yang lebih tepat.
- Adaptasi-adaptasi yang Lazim
Disisi positif beberapa perubahan dalam terpai sering kali dibutuhkan untuk
merespon kekuatan-kekuatan ini dapat dianggap sebagai wisdom (kearifan) (Baltes
dan Staudinger, 1993). Bahkan klien-klien yang tidak memenuhi kriteria mungkin
pernah mengalami pengalaman hidup yang sulit. Kebanyakan lansia dapat
mengabstraksikan informasi yang sangat membantu dari pengalaman-pengalaman itu
dan mendiskripsikan ketrampilan-ketrampilan pribadi yang pernah membantu mereka
dalam mengatasi kesulitan. Menunjukkan respek dan minat yang tulus
terhadap akumulasi pengalaman klien dapat mendukung terapi.
Adaptasi-adaptasi kunci terhadap terapi yang perlu
dipertimbangkan untuk masing-masing klien lansia, yakni:
1.
Menggunakan pembelajaran
multimodel (dengan banyak cara).
2.
Menanamkan kesadaran
interdisipliner.
3.
Menyajikan informasi yang lebih
jelas (more clearly).
4.
Mengembangkan pengetahuan
(knowledge) tentang berbagai tantangan dan kekauatan terkait-penuaan.
5.
Menyuguhkan materi terapi dengan
lebih lambat (more slowly).
- Intervensi-intervensi Psikologi dalam Konteks Tim Interdisipliner
Keluarga kadang-kadang merupakan kekuatan primer
dibelakang lansia yang mencari perawatan kesehatan mental (Zeiss dan Steffen,
1996). Keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh semua anggota tim
meliputi:
1.
Pengetahuan dan respek terhadap
kemampuan anggota tim lainnya.
2.
Kemampuan untuk berbagi informasi
secara jelas dengan professional-profesional yang memiliki latar belakang
pendidikan dan latihan serta jargon yang berbeda.
3.
Kapasitas untuk mengonseptualisasikan
kasus secara holistic, termasuk kecakapan dalam mengembangkan rencana
penanganan tim secara tertulis.
4.
Ketrampilan kepemimpinan.
5.
Ketrampilan mengatasi konflik.
BAB IV
KESIMPULAN
Lansia adalah populasi yang heterogen.
Orang-orang yang tertarik pada kesehatan mental dan lansia harus memiliki
pengetahuan yang luas tentang aspek-aspek psikologis, biologis, dan social dari
penuaan. Psikopatologi pada lansia berupa disfungsi emosional dan hendaya
kognitif. Angka psikopatologi dalam populasi lansia yang hidup di masyarakat
maupun diberbagai institusi kira-kira 22%. Selain kesehatan mental,
bidang-bidang lain yang dapat menjadi fokus penanganan lansia termasuk
kesehatan fisik, penganiayaan lansia, insomnia, masalah-masalah seksual, dan
isu-isu yang terkait dengan kematian dan menjelang ajal.
Penuaan populasi memunculkan berbagai
tantangan dan peluang baru bagi para pekerja kesehatan mental yang berminat.
Kami harap ikhtisar ini dapat menstimulasi minat terhadap isu-isu yang
mempengaruhi lansia, keluarga, dan professional kesehatan yang berinteraksi
dengan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan, S. Gangguan Kepribadian Paranoid. file:///E:/lamsia/gangguan-kepribadian-paranoid.html. 13
Desember 2012.
Davison, G.C, dkk. (2004). Psikologi Abnormal. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Maramis, W.F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga University Press.
...............Gangguan
Demensia. file:///E:/lamsia/Mengenal%20Demensia%20pada%20Lanjut%20Usia. Htm. 13 Desember 2012.
Muharror, Menangani Orang
Lanjut Usia. file:///E:/lamsia/menangani-orang-lanjut-usia-psikologi.html.
13 Desember 2012.
................Depresi Pada
Lansia. file:///E:/lamsia/depresi%20pada%20lansia%20%C2%AB%20 sabiilatul.htm. 13 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar