Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 April 2013

Psikopatologi Lansia


GANGGUAN PSIKOPATOLOGI
PADA LANSIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dengan semakin besar proporsi populasi orang-orang lanjut usia (lansia) beserta heterogenitas, pengalaman hidup yang kompleks, dan perubahan demografis dalam populasi, penting bagi professional kesehatan mental untuk bersiap-siap mengakses dan menagngani klien-klien lansia. Terlepas dari kecenderungan untuk memandang lansia sebagai populasi yang homogen dilihat dari nilai-nilai, motif, status social psikologis serta perilakunya, penelitian menunjukkan bahwa lansia adalah populasi yang sangat beragam dan heterogen (Jackson, Chatter, dan Taylor, 1993; Williams, Lavizzo-Mourey, dan Warren, 1994). Mereka memiliki karakteristik-karakteristik yang sama dan yang berbeda dengan kelompok-kelompok usia lainnya.
Dalam mengonseptualisasikan penuaan, pembedaan yang berfaedah adalah dengan membedakan antara the young-old dan the oldest-old (Berger dan Thompson, 1998). Istilah oldest-old mengacu pada orang-orang yang berumur 85 tahun keatas. Tetapi, sebagian peneliti khawatir apabila pembedaan itu dapat menjadikan pensetereotipan terhadap kelompok the oldest-old (Binstock, 1992). Ini poin yang penting karena umur kronologis bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana orang menyesuaikan diri terhadap penuaannya. Keadaan pikiran, kebiasaan terkait kesehatan, dan pandangan social dan psikologis secara umum tentang hidup juga menentukan penyesuaian terhadap penuaan. Di Amerika jumlah penduduk berusia 65 tahun atau lebih deperkirakan akan meningkat dari 35 juta pada tahun 2000 menjadi 78 juta pada tahun 2050, peningkatan jumlah tertinggi dibandingkah kelompok usia lain. Di seluruh dunia jumlah individu berusia di atas 65 tahun mencapai 750 juta pada tahun 2050.
Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan untuk tumbuh berkembang dan bertekad berbakti. Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikap-sikap yang berkisar antara kepasrahan yang pasif dan pemberontakan , penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi terkunci dalam diri mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental mereka sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usa) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pengertian lansia digolongkan menjadi 4, yaitu:
  1. Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
  2. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
  3. Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
  4. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
 Gangguan pada masa lanjut usia terbagi menjadi dua yaitu;
1.      Gangguan pada otak
a.       Demensia
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.  
Gejala Demensia
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
b.      Delirium
Delirium adalah gangguan otak yang menunjuk kepada sindroma organik karena gangguan fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yang menghambat metabolisme otak, gejala umumnya adalah penurunan kesadaran(Maramis).
Tanda dan gejala
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
* Konsentrasi dan memfokus
* Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
* Kesadaran naik-turun
* Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
* Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
* Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
* Perubahan kepribadian dan afek
* Pikiran menjadi kacau
* Bicara ngawur
* Disartria dan bicara cepat
* Neologisma
* Inkoheren

Gejala termasuk:
* Perilaku yang inadekuat
* Rasa takut
* Curiga
* Mudah tersinggung
* Agitatif
* Hiperaktif
* Siaga tinggi (Hyperalert)

Atau sebaliknya bisa menjadi:
* Pendiam
* Menarik diri
* Mengantuk
* Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
* Pola tidur dan makan terganggu
* Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu

2.      Gangguan psikologis
a.       Depresi
Pada orang lanjut usia yang mengalami depresi, bukanlah pertama kali mengalaminya. Namun depresi yang mereka alami merupakan kelanjutan suatu kondisi yang terjadi dimasa usia terdahulu. Pada orang lansia yang baru mengalami depresi pada usia lanjut, depresi tersebut dapat ditelusuri kepenyebab biologis yang spesifik.
Penatalaksaan depresi pada lansia meliputi beberapa aspek, antara lain:


a).  Farmakoterapi
Respon terhadap obat pad usia lanjut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain farmakokinetik dan farmakodinamik. Faktor-faktor farmakokinetik antara lain: absorbsi, distribusi, biotransformasi, dan ereksi obat akan mempengaruhi jumlah obat yang dapat mencapai jaringan tempat kerja obat untuk bereaksi dengan reseptornya. Faktor-faktor farmakodinamik antara lain: sensitivitas reseptor, mekanisme homeostatik akan mempengaruhi antisitas efek farmakologik dari obat tersebut.
Obat-obat yang digunakan pada penyembuhan depresi usia lanjut antara lain:
-          Anti Depresan Trisiklik
-          Irreversible Monoamin Oxsidase A-B Inhibitor (MAOIs)
-          Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs)
-          Selective Serotonin Reuptake Enhacer (SSRIs)
-          Penstabil Mood (Mood Stabilizer)
-          Electroconvulsive Teraphy (ECT)
           b). Psikoterapi
          Menurut Marasmis (2005), cara-cara psikoterapi dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu psikoterapi suportif dan psiloterapi genetic dinamik.
                  1).  Psikoterapi suportif
Tujuan psikoterapi jenis ini adalah menguatkan daya tahan mental yang ada, mengembangkan mekanisme yang baru dan lebih baik untuk mempertahankan control diri, dan dapat mengembalikan keseimbangan adaptif (dapat menyesuaikan diri). Cara-cara psikoterapi suportif antara lain: ventilasi atau psikokatarsis, persuasi atau bujukan, sugesti penjaminan kembali, bimbingan dan penyuluhan, terapi kerja, hipnoterapi dan narkoterapi kelompok, terapi perilaku.
                   2). Psikoterapi genetic-dinamik (psikoterapi wawasan).
          Psikoterapi genetic-dinamik dibagi menjadi psikoterapi reeduaktif dan psikoterapi rekonstruktif. Psikoterapi reedukatif adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak dialam sadar, dengan usaha berencana untuk penyesuaian diri kembali, memodifikasi tujuan , dan membangkitkan serta mengungkapkan potensi reaktif yang ada. Cara psikoterapi reedukatif antara lain: terapi hubungan antara manuasia, terapi sikap, terapi wawancara, analisa dan sintesa yang distributive, konseling terapetik, terapi kerja, reconditioning, terapi kelompok yang reedukatif, dan terapi somatic. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain: Psikoanalisa Freud, Psikoanalisis non-Frreu, psikoanalisis non-Freudian, dan psikoterapi yang berorientasi pada psikoanalisanya (misalnya: asosiasi bebas, analisa mimpi, hipnoanalisa, narkoterapi, terapi main, terapi seni, dan terapi kelompok analitik.
            c).  Manipulasi lingkungan
                              Lingkungan pergaulan pasien akan sangat membantu penatalaksanaan depresi pada lansia. Dimana keluarga penderita harus bersifat sabar dan penuh perhatian. Pengobatan sosiokultural dilakukan dengan mengurangi stresor yang ada yaitu menciptakan lingkungan yang sehat serta memperbaiki sistem komunikasi lingkungan. Selain itu keadaan fisik dan keberhasilan perlu mendapat perhatian yang optimal dan seringkali diperlukan mmanipulasi lingkungan untuk meringankan penderitaan pasien (Setabudi, 1984).

b.      Kecemasan
           Informasi yang ada tentang gangguan kecemasan pada lansia sangat terbatas, meskipun gangguan ini lebih banyak terjadi dalam populasi ini dibanding depresi (Beck dan Stenley, 1997). Kriteria diagnosis untuk gangguan kecemasan yang menjadi focus perhatian pada lansia didefinisikan sebagai berikut (American Psychiatric Association, 1994):
1.      Gangguan panik dideskripsikan sebagai episode-episode aprehensi intens, palpitasi, nyeri dada, dan napas pendek yang mendadak, yang berulang kali muncul.
2.      Fobia ditandai oleh ketakutan dan penghindaran yang melampaui besarnya bahaya riilnya.
3.      Generalized Anxiety Disorde (GAD) (gangguan kecemasan menyeluruh) menyangkut kecemasan dan kekhawatiran yang persisten dan tak terkontrol.
4.      Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) (Gangguan Stes Paska-Trauma) mengacu pada pengalaman emosional yang dirasakan kembali seperti saat mengalami kejadian traumatis intens, yang disertai dengan penghindaran rangsangan fisiologis dari hal-hal yang berhubungan dengan trauma itu. Angka preferensi gangguan kecemasan dikalangan lansia adalah 5,5% (Regier, dkk., 1988).

c.       Delusional (Paranoid)
               Paranoid pada orang lanjut usia dapat merupakan kelanjutan dari gangguan yang terjadi pada masa lampau atau dapat menyertai penyakit otak seperti delirium dan demensia. Pemikiran paranoid telah dihubungkan dengan kerusakan sensori, khususnya pendengaran. Orang lanjut usia yang mengalami ketulian dapat meyakini bahwa orang lain membicarakannya dengan berbisik agar ia tidak mendengar apa yang dikatakan mereka. Orang lanjut usia menjadi paranoid juga memiliki penyesuaian sosial yang buruk.
               Kepribadian paranoid adalah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol, orang seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dilihat sebagai seorang agresor terhadapnya, dimana ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering mengancam orang lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Mereka cenderung tidak memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap orang lain. Selain itu, mereka pada umumnya juga tidak kehilangan hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain berada dalam kesadaran saat mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara berlebihan.

d.      Skizofrenia
             Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan sosial-budaya. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep.Kes.1992).
              Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas, bingung, mudah marah, mudah salah faham dan sebagainya. Terjadi juga gangguan perilaku, yang disertai halusinasi, waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita, sehingga penderita menjadi tak tahu waktu, tempat maupun orang.
              Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras, atau mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat kesadaran pasien (penderita), melalui pemeriksaan psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. Karena banyaknya gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile psikosis.
Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
·         Skizofrenia paranoid (curiga, bermusuhan, garang dsb)
·         Skizofrenia katatonik (seperti patung, tidak mau makan, tidak mau minum, dsb)
·         Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil, merengek-rengek, minta-minta, dsb)
·         Skizofrenia simplek (seperti gelandangan, jalan terus, kluyuran)
·         Skizofrenia Latent (autustik, seperti gembel)
              Pada umumya, gangguan skizof renia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid, simplek dan latent.

e.       Hipokondriasis
Gangguan Hipokondriasis adalah suatu gangguan Somatoform dimana individu terpreokupasi ketakutan mengalami suatu penyakit serius yang menetap terlepas dari kepastian medis yang menyatakan sebaliknya (tidak terbukti secara medis ada suatu Apenyakit di dalam tubuhnya). Gangguan ini umumnya muncul pada masa dewasa awal, dan cenderung memiliki perjalanan yang kronis. Dalam suatu studi lebih dari 60 persen kasus yang terdiagnosis masih mengalami gangguan tersebut ketika ditindaklanjuti 4 hingga 5 tahun kemudian (Barsky dkk., 1998). Para pasien dengan diagnosis ini merupakan konsumen rutin layanan kesehatan; tidak mengherankan mereka menganggap dokter atau tenaga medis lainnya tidak berkompeten dan tidak peduli (Pershing, dkk., 2000). Teorinya adalah mereka bereaksi berlebihan terhadap berbagai sensasi fisik biasa dan abnormalitas minor, seperti denyut jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang tidak sering, setitik rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti keyakinan mereka.
Hipokondriasis sering kali muncul bersama dengan gangguan anxietas dan mood, yang mengarahkan beberapa peneliti untuk berpikir bahwa hipokondriasis bukan merupakan gangguan tersendiri, namun suatu symptom berbagai gangguan lain (Noyes, 1999).  Hipokondriasis tidak dibedakan secara tepat dengan gangguan somatisasi yang juga dicirikan oleh riwayat panjang mengenai keluhan penyakit medis (Noyes, dkk., 1994).
Intervensi untuk gangguan Hipokondriasis yang secara umum telah terbukti secara efektif adalah Terapi Kognitif-Behavioral (CBT) (a.l., Bach, 2000; Fernandez, Rodriguez&Fernandez, 2001). Penelitian menunjukkan bahwa para pasien Hipokondriasis menunjukkan penyimpangan kognitif dengan menganggap masalah kesehatan yang muncul sebagai suatu ancaman (Smeets dkk., 2000). Terapi kognitif-behavioral dapat ditujukan untuk merestrukturisasi pemikiran pesimistik semacam itu. Selain itu, penanganan dapat mencakup beberapa strategi seperti mengarahkan perhatian selektif pasien ke simptom-simptom fisik dan tidak mendorong pasien mencari kepastian medis bahwa ia tidak sakit (a.l., Salkovskis&Warwick, 1986; Visser&Bouman, 1992; Warwick&Salkovskis, 2001).

f.       Gangguan Tidur
Gangguan tidur pada lansia adalah sebuah hal yang sering di alami oleh kelompok usia lanjut (lansia) ini. Gangguan tidur pada lansia ini di sebabkan oleh banyak faktor penyebab, baik itu faktor fisik, psikologis maupun mental. Ganggun tidur pada lansia bisa berupa gangguan kesulitan tidur ataupun gangguan mempertahankan waktu tidur nyenyak.
Gangguan tidur pada lansia dapat bersifat nonpatologik karena faktor usia danada pula gangguan tidur spesifik yang sering ditemukan pada lansia. Ada beberapa gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia.
Insomnia Primer
Ditandai dengan:
·       Keluhan sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur atau tetap tidak segar meskipun sudah tidur. Keadaan ini berlangsung paling sedikit satu bulan
·       Menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinik atau impairmentsosial, okupasional, atau fungsi penting lainnya.-Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama ada gangguan mental lainnya.
·       Tidak disebabkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik umum atau zat.
Insomnia kronik
·         Disebut juga insomnia psikofisiologik persisten. Insomnia ini dapatdisebabkan oleh kecemasan; selain itu, dapat pula terjadi akibat kebiasaan atau pembelajaran atau perilaku maladaptif di tempat tidur. Misalnya, pemecahan masalahserius di tempat tidur, kekhawatiran, atau pikiran negatif terhadap tidur ( sudah berpikir tidak akan bisa tidur). Adanya kecemasan yang berlebihan karena tidak bisatidur menyebabkan seseorang berusaha keras untuk tidur tetapi ia semakin tidak bisa tidur.
Insomnia idiopatik
·         Insomnia idiopatik adalah insomnia yang sudah terjadi sejak kehidupan dini.Kadang-kadang insomnia ini sudah terjadi sejak lahir dan dapat berlanjut selamahidup. Penyebabnya tidak jelas, ada dugaan disebabkan oleh ketidakseimbanganneurokimia otak di formasio retikularis batang otak atau disfungsi forebrain. Lansia yang tinggal sendiri atau adanya rasa ketakutan yang dieksaserbasi pada malam haridapat menyebabkan tidak bisa tidur. Insomnia kronik dapat menyebabkan penurunanmood (risiko depresi dan anxietas), menurunkan motivasi, atensi, energi, dankonsentrasi, serta menimbulkan rasa malas. Kualitas hidup berkurang danmenyebabkan lansia tersebut lebih sering menggunakan fasilitas kesehatan. Seseorang dengan insomnia primer sering mempunyai riwayat gangguan tidur sebelumnya. Sering penderita insomnia mengobati sendiri dengan obat sedatif-hipnotik atau alkohol. Anksiolitik sering digunakan untuk mengatasi ketegangan dan kecemasan.

Penanganan Gangguan Tidur Pada Lansia
Pencegahan Primer
Sebelas peraturan untuk mendapatkan higiene tidur yang baik telah berhasil diidentifikasi untuk pencegahan primer gangguan tidur.
·         Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat di hari berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur, berlebihnya waktu yang dihabiskan di tempat tidur tampaknya berkaitan dengan tidur yang terputus-putus dan dangkal.
·         Waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sirkadian dan menyebabkan awitan tidur yang teratur.
·         Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur, namun, latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat memperbaiki tidur pada malam berikutnya.
·         Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (mis, bunyi pesawat melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak terbangun oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi hari. Kamar tidur kedap suara dapat membantu bagi orang-orang yanh harus tidur di dekat kebisingan.
·         Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tida ada bukti yang menunjukkn bahwa kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur.
·         Rasa lapar menggau tidur, kudapan ringan dapat membantu tidur.
·         Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.
·         Kafein di malam hari dapat menggu tidur, meskipun pada prang-orang yang tidak berfikir demikian.
·         Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
·         Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.
·         Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.

Pencegahan sekunder
     Seperti biasa, memvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau pemberian perawatan merupakan hal yang penting untuk memastikan ke akuratan dan pengkajian jika pasien dianggap tidak kompeten untuk memberi laporan sendiri.
    Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus bagi lansia di rumahnya sendiri. Informasi ini memberikan catatan yang akurat tentang masalah tidur. Untuk mendapatkan gambaran sejati tentang gangguan tidur yang dialami lansia di rumah atau di fasilitas kesehatan, catatan harian tersebut harus dibuat selama 3 sampai 4 minggu. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor berikut ini:
·         Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat tidur, atau menggunakan kamar mandi.
·         Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur.
·         Berapa kali orang tersebut terbangun atau memberi perawatan.
·         Terjadinya konfusi atau disorientasi.
·         Penggunaan obat tidur.
·         Perkiraan orang tersebut bangun di pagi hari.

Pencegahan Tersier
    Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut dan memengaruhi jalan napas. Saat ini sudah banyak pusat-pusat gangguan tidur yang tersedia di seluruh negara untuk membantu mengevaluasi gangguan tidur.
   Tempat-tempat tersebut, yang biasanya berkaitan dengan lembaga penelitian dan kedokteran klinis atau universitas, dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih untuk mendeteksi rekaman listrik di otak dan obstruksi pernapasan. Data-data tersebut membantu menentukan pengobatan yang terbaik untuk mengatasi kesulitan dan merehabilitasi lansia sehingga ia dapat menikmati tidur yang berkualitas baik sampai akhir hidupnya.

Penanganan Terapeutik Gangguan Tidur pada Lansia
   Nicassio menganjurkan aturan-aturan berikut untuk mempertahankan kenormalan pola tidur:
·         Pergi tidur hanya jika mengantuk.
·         Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, jangan membaca, menonton televisi, atau makan di tempat tidur.
·         Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain. Bangun sampai anda benar-benar mengantuk, kemudian baru kembali ke tempat tidur. Jika tidur masih tidak biasa dilakukan dengan mudah, bangun lagi dari tempat tidur. Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat tidur dengan tidur cepat. Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang malam.
·         Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi tanpa mempedulikan berapa banyak anda tidur di malam hari. Hal ini dapat membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
·         Kurangi tidur di siang hari.

g.      Bunuh Diri
             Faktor yang menyebabkan orang lanjut usia melakukan bunuh diri adalah: karena penyakit fisik yang serius, rasa putus asa, isolasi sosial, kehilangan orang-orang yang dicintai, ekonomi lemah, dan depresi. Angka bunuh diri pada orang lanjut usia terhitung tinggi, tiga kali lebih besar dari orang muda (McIntosh,1995).
       Orang lanjut usia yang mencoba bunuh diri akan menggunakan lebih fatal dan lebih berhasil.Conwell,2001). Interfensi untuk mencegah tindakan bunuh diri pada lanjut usia adalah dengan melihat masalahnya dari sudut pandang yang akan menggurangi keputus asaanya.

h.      Seksualitas Dan Penuaan
               Laki-laki dan perempuan akan kehilangan minat dan kapasitas untuk berhubungan seks ketika memasuki usia lanjut. Orang lanjut usia tidak mampu menikmati hubungan lebih dari sekedar pelukan sayang dan ciuman dipipi. Kapasitas mereka untuk menggalami keterangsangan seksual dicampur adukkan dengan ketidak mampuan mereka untuk hamil pascamenopause.
         Namun ada sebagian besar orang lanjut usia yang memiliki minat dan kapasitas seksual yang besar, dimana aktifitas yang lebih disukai cenderung berupa belaian dan mastrubasi, kadang-kadang melakukan kontak kelamin.






BAB III
PENANGANAN GANGGUAN PADA LANSIA


A.    Intervensi psikologis
  1. Asesmen: Bersikap Sensitif terhadap Isu-isu Penuaan
Seperti halnya orang-orang dewasa yang lebih muda teknik-teknik yang digunakan dalam asesmen psikologisnya termasuk wawancara klinis, reviu data dan catatan riwayat hidup, evaluasi kognitif dan neuropsikologis, asasmen perilaku, dan observasi situasional (Kaszniak, 1996). Tetapi, untuk lansia, psikolog perlu untuk berbagai tes dan lebih sering memasukkan tes kognitif dalam asesmen. American Psychiatric Association (1994) menyediakan pedoman untuk evaluasi demensia dan kemunduran kognitif terkait umur.
Untuk pasien-pasien yang memperlihatkan perilaku yang bersifat merugikan (misalnya; berkeliaran, berteriak-teriak, menyerang) asesmen perilaku dapat berguna dalam menetapkan tipe teknik yang berguna bagi pasien dan/atau staf yang menangani pasien (misalnya dipanti jompo) (Burgio, Flynn, dan Martin, 1987; Rader, 1994).
  1. Psikoterapi: Observasi Umum tentang Adaptasi dan Efektifitas
Kebanyakan penelitian tentang psikoterapi untuk lansia menggunakan pendekatan-pendekatan kognitif-behavioral, dan ini telah terbukti efektif untuk berbagai macam masalah (Scorgin dan Mc Elreath, 1994; Zarith dan Knight, 1996).
Cognitive and Behavioral Therapies (CBT)/Terapi kognitif dan behavioral, didasarkan pada pendekatan-pendekatan teoritis yang menekankan pada belajar seumur hidup dan keyakinan yang optimistic bahwa orang mampu menciptakan perubahan penting dalam pikiran, perasaan, dan tindakannya (misalnya, Goldfried dan Davison, 1994).
B.     Psikoterapi Untuk Lansia
Ketika menangani lansia, penting untuk tidak berasumsi bahwa adaptasi tertentu pada terapi kognitif-behavioral selalu dibutuhkan. Setiap individu dalam terapi akan berfungsi dengan cara yang unik. Asesmen terhadap masing-masing klien seharusnya tidak hanya memasukkan informasi tentang presenting complaint, tetapi juga berbagai kekuatan dan deficit, guna menetapkan adaptasi mana yang lebih tepat.
  1. Adaptasi-adaptasi yang Lazim
Disisi positif beberapa perubahan dalam terpai sering kali dibutuhkan untuk merespon kekuatan-kekuatan ini dapat dianggap sebagai wisdom (kearifan) (Baltes dan Staudinger, 1993). Bahkan klien-klien yang tidak memenuhi kriteria mungkin pernah mengalami pengalaman hidup yang sulit. Kebanyakan lansia dapat mengabstraksikan informasi yang sangat membantu dari pengalaman-pengalaman itu dan mendiskripsikan ketrampilan-ketrampilan pribadi yang pernah membantu mereka dalam mengatasi kesulitan. Menunjukkan respek dan  minat yang tulus terhadap akumulasi pengalaman klien dapat mendukung terapi.
Adaptasi-adaptasi kunci terhadap terapi yang perlu dipertimbangkan untuk masing-masing klien lansia, yakni:
1.      Menggunakan pembelajaran multimodel (dengan banyak cara).
2.      Menanamkan kesadaran interdisipliner.
3.      Menyajikan informasi yang lebih jelas (more clearly).
4.      Mengembangkan pengetahuan (knowledge) tentang berbagai tantangan dan kekauatan terkait-penuaan.
5.      Menyuguhkan materi terapi dengan lebih lambat (more slowly).
  1. Intervensi-intervensi Psikologi dalam Konteks Tim Interdisipliner
Keluarga kadang-kadang merupakan kekuatan primer dibelakang lansia yang mencari perawatan kesehatan mental (Zeiss dan Steffen, 1996). Keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh semua anggota tim meliputi:
1.    Pengetahuan dan respek terhadap kemampuan anggota tim lainnya.
2.    Kemampuan untuk berbagi informasi secara jelas dengan professional-profesional yang memiliki latar belakang pendidikan dan latihan serta jargon yang berbeda.
3.    Kapasitas untuk mengonseptualisasikan kasus secara holistic, termasuk kecakapan dalam mengembangkan rencana penanganan tim secara tertulis.
4.    Ketrampilan kepemimpinan.
5.    Ketrampilan mengatasi konflik.













BAB IV
KESIMPULAN


           Lansia adalah populasi yang heterogen. Orang-orang yang tertarik pada kesehatan mental dan lansia harus memiliki pengetahuan yang luas tentang aspek-aspek psikologis, biologis, dan social dari penuaan. Psikopatologi pada lansia berupa disfungsi emosional dan hendaya kognitif. Angka psikopatologi dalam populasi lansia yang hidup di masyarakat maupun diberbagai institusi kira-kira 22%. Selain kesehatan mental, bidang-bidang lain yang dapat menjadi fokus penanganan lansia termasuk kesehatan fisik, penganiayaan lansia, insomnia, masalah-masalah seksual, dan isu-isu yang terkait dengan kematian dan menjelang ajal.
         Penuaan populasi memunculkan berbagai tantangan dan peluang baru bagi para pekerja kesehatan mental yang berminat. Kami harap ikhtisar ini dapat menstimulasi minat terhadap isu-isu yang mempengaruhi lansia, keluarga, dan professional kesehatan yang berinteraksi dengan mereka.























DAFTAR PUSTAKA

Davison, G.C, dkk. (2004). Psikologi Abnormal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Maramis, W.F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
...............Gangguan Demensia. file:///E:/lamsia/Mengenal%20Demensia%20pada%20Lanjut%20Usia. Htm. 13 Desember 2012.
................Depresi Pada Lansia. file:///E:/lamsia/depresi%20pada%20lansia%20%C2%AB%20 sabiilatul.htm. 13 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar